SMAN1G Berbicara di Adiwiyata Nasional

Adiwiyata, diambil dari kata adi danwiyata. Adi adalah definisi dari “baik” sementara wiyata berarti “sekolah”. Jika digabungkan menjadi Adiwiyata, menjadi sekolah yang baik. Adiwiyata merupakan predikat yang didapat apabila sekolah memenuhi beberapa syarat yang merupakan bagian dari penilaian ddan kriteria sekolah adiwiyata. SMAN1G, sekolah tercinta kita ini kini sedang dalam proses menuju adiwiyata nasional dan tentunya hal ini patut dibanggakan. Berikut adalah syarat utama untuk memenuhi kriteria dalam adiwiyata, termasuk adiwiyata nasional:

Pertama, Kebersihan. Apakah sekolah tersebut terlihat bersih? Asri dan nyaman? Atau justru kotor dan tidak terawat? Kita sebagai elemen dalam SMAN1G harus memperhatikan beberapa poin menyangkut kebersihan, baik itu di lingkungan luar kelas ataupun ruang pembelajaran. Tak hanya lingkungan yang bersih, makanan yang biasa dikonsumsi pun harus higienis. Maka dari itu pihak sekolah melarang para murid untuk jajan diluar lingkungan sekolah. Perubahan SMAN1G secara fisik tentunya diikuti dengan perubahan sikap pula. Apakah setiap elemen di SMAN1G peduli pada lingkungan sekitar? Contoh kecil saja, saat melihat sampah kecil tergeletak sembarangan, apa yang harus kita lakukan? Tindak lanjut tersebut tentu menjadi tolok ukur utama dalam penilaian adiwiyata nasional kali ini. Kriteria pertama ini pun menyangkut bagaimana kita mampu mengolah barang-barang bekas menjadi benda bernilai jual tinggi atau setidaknya menjadi suatu yang memiliki nilai guna sekaligus nilai estetika. Hal ini menuntut kreatifitas kita agar bisa memanfaatkan barang bekas.

SMAN1G telah mengadakan kerja bakti yang dilaksanakan guna memperindah lingkungan pada  3 Agustus-9 Agustus 2017 . Kerjabakti tersebut dilaksanakan dalam 5 hari belajar dan dimulai pada jam ketiga pelajaran. Para murid dan guru bekerja sama mengindahkan lingkungan SMAN1G dengan barang bekas yang disulap menjadi komponen berguna untuk taman dan perabotan sejenisnya.  Tak sia-sia, SMAN1G menjadi lebih asri dan sejuk. Kreativitas SMAN1G bukan isapan jempol belaka melainkan bukti nyata bahwa SMAN1G merupakan sekolah adiwiyata.

Kedua, 3S: senyum, salam, dan sapa. Indonesia terkenal dengan penduduknya yang ramah dan baik hati. Seiring era globalisasi, nilai baik ini hampir luntur. Sikap ramah wajah Indonesia yang kian terkikis ini pun tak telak menjadi ukuran dasar sebuah sekolah pantas menyandang predikat adiwiyata. Gerakan 3s ini diharapkan dilakukan oleh keluarga besar sekolah. Saat bertemu ditengah jalan, setidaknya lemparkan senyuman kecil atau memberi salam meskipun kita tidak mengenal. Kita sebagai generasi penerus bangsa harus membentuk kembali citra Indonesia sebagai bangsa yang murah senyum dan ramah pada dunia. Menunjukkan bahwa walaupun zaman berganti, kepribadian kita tetap kokoh.

Ketiga, kepribadian luhur. Ada nasihat terkutip, “prestasi baik itu biasa, berbudi pekerti luhur itu luar biasa.”. Prestasi gemilang yang kita miliki, hendaknya diikuti dengan pribadi baik agar menjadi orang berguna bagi nusa dan bangsa. Adiwiyata ini bukan main-main, melainkan bertujuan untuk mencetak murid jujur dan akhlak baik. Sekolah akan dinilai, apakah sekolah ini semua elemennya memiliki sifat jujur yang mengakar? Apakah sekolah ini aman dari pencurian baik itu dari pihak luar atau dalam? Pada adiwiyata nasional ini kita akan menunjukkan bahwa SMAN1G adalah sekolah yang menanamkan sikap jujur dan dapat dipercaya. Bahwa semboyan yang selalu kita elu-elukan bukanlah omong kosong yang dapat ditertawakan. SMAN1G, Maju terus!!! (DIKSI/Nurhalizah W)

Komentar

comments